Oleh Abi Sabila
Miris. Barangkali itu pula yang akan anda
rasakan apabila kebetulan melihat tayangan ini. Saya tidak akan membahas
tayangan yang saya tidak tahu pasti masuk dalam kelompok mana, apakah reality
show, berita ataukah yang lainnya. Saya juga tidak tahu persis kapan saja acara
ini ditayangkan. Yang saya tahu, sang host atau pembawa acaranya sekilas mirip
dengan seorang da’i kondang negeri ini. Saya kebetulan melihat tayangan ini
beberapa waktu yang lalu, saat sarapan pagi.
Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya,
keluarga kami memang belum bisa sepenuhnya meninggalkan televisi. Kami baru
bisa mengurangi, memilah dan memilih tayangan mana yang layak untuk kami
tonton.
Yang ingin saya bahas di sini adalah setelah
melihat tayangan ini, saya baru tersadar bahwa banyak fakta tentang umat Islam
saat ini yang cukup memprihatinkan, menyedihkan, mengkhawatirkan, atau apalah,
saya tidak tahu sebutannya.
Dalam episode kali itu, sang host —yang sudah
saya bilang wajahnya sekilas mirip dengan seorang da’i terkenal— mewawancarai
masyarakat dari berbagai kalangan di beberapa tempat keramaian. Tema yang
diambil adalah mengenai sejarah nabi Muhammad SAW. Yang menjadi sasaran tentu
saja umat muslim. Bukan pertanyaan yang sulit, namun ternyata tidak semua
responden bisa menjawabnya dengan benar.
Di awal tayangan, sang host bertanya pada dua
orang gadis remaja, siapa ibunda nabi Muhammad SAW? Ragu, salah satu dari
mereka menjawab Siti Hajar ( sambil tertawa ). Sang host kembali mengulangi pertanyaannya,
namun mereka benar-benar tidak tahu. Itu terbukti dari jawaban mereka yang
berganti-ganti, dari Siti Fatimah sampai Siti Aisyah.
Kepada responden yang lain, sang host
menanyakan siapa ayahanda nabi Muhammad SAW? Kali ini dijawab dengan benar,
meskipun ada responden lainnya yang menjawab Abdul Mutholib, bahkan Abu Tholib.
Dari beberapa responden yang ditanya, tidak
semuanya bisa menjawab pertanyaan yang diajukan dengan benar. Seperti ada yang
menjawab Muhammad diangkat menjadi rosul pada usia dua puluh tiga, ada juga
yang menjawab tiga puluh tahun. Juga di mana nabi Muhammad SAW wafat dan
dimakamkan? Ada yang bisa menjawab di Madinah, namun ada pula yang menjawab di
Mekah bahkan ada yang asal-asalan menjawab di Arab.
Apa pendapat anda terhadap hal ini? Awalnya
saya tidak langsung percaya pada ‘kejujuran’ tayangan ini, sebab bisa saja
hanya sebuah rekayasa, ilustrasi semata sebelum masuk pada inti acara mereka.
Penasaran, saya coba menanyakan empat
pertanyaan itu pada seorang anak sepuluh tahun yang duduk tak jauh dari saya.
Dengan cepat dan tepat, anak itu bisa menjawab keempat pertanyaan yang saya
ajukan. Tapi saya masih belum puas, bisa saja ia menjawab dengan cepat karena
ia anak sekolah dan pelajaran di sekolah memang sedang membahas hal serupa.
Untuk membuktikan bahwa tayangan yang saya
lihat bukan sekedar rekayasa ( sebenarnya saya akan merasa lega justru bila
tayangan itu hanya rekayasa sebab sangat memalukan, menyedihkan bila seorang
muslim tidak tahu sejarah nabinya, bahkan untuk hal yang paling sederhana
sekalipun ). Saya simpan empat pertanyaan tersebut untuk kemudian saya tanyakan
kepada orang lain, mulai dari keluarga, tetangga hingga rekan kerja. Tentu
saja, saya tidak bertanya seperti sang host bertanya pada para responden. Juga
tidak seperti saya bertanya pada bocah sepuluh tahun yang duduk di sebelah
saya.
Saya maklum ketika beberapa di antara mereka
merasa heran dengan pertanyaan saya. Namun, keadaan segera menjadi terbalik,
saya ‘shock’ dengan kenyataan yang saya temui. Ternyata, tayangan itu tidak (
sepenuhnya ) direkayasa. Tayangan itu benar dan nyata.
Benar bahwa banyak umat ini yang ‘tak kenal
‘dengan seseorang yang mereka akui dan yakini sebagai seorang nabi dan rosul.
Nyata bahwa belajar sejarah nabi Muhammad SAW tidaklah lebih menarik dibanding
mempelajari sejarah tokoh-tokoh kafir yang di dunia saja sedikitpun tidak bisa
diharapkan pertolongannya, apalagi di akhirat kelak. Benar dan nyata, meski
tidak semua, banyak umat ini yang lebih hafal dengan sejarah tokoh-tokoh kafir dibanding
sejarah nabi yang telah merubah dunia dari kegelapan menjadi terang benderang,
yang sangat kita dambakan syafaatnya di akhirat kelak. Astaghfirulloh.
Kekhawatiran ini terus meluas. Jangan-jangan,
saya sendiripun tidak begitu tahu sejarah manusia paling mulia ini, kecuali
hanya pengetahuan yang paling luar dan standard saja. Jangan-jangan keluarga,
tetangga, sahabat, kerabat, dan orang-orang di sekliling saya juga tidak begitu
kenal dengan ( sejarah ) nabinya sendiri.
Tidak berlebihan rasanya, bila kecemasan ini
muncul. Apa yang ada dalam tayangan di televisi yang secara kebetulan saya
lihat saat sarapan pagi, juga saya dapati di sekeliling saya. Banyak umat ini
yang tak kenal dengan sejarah sosok yang mereka yakini.
Tidak ada salahnya bila kita membuat daftar
pertanyaan untuk kemudian kita jawab sendiri, segala sesuatu yang berhubungan
dengan nabi kita, nabi Muhammad SAW. Mulai dari kelahirannya, keluarga
terdekatnya, sahabat-sahabatnya, apakah kita mampu menjawab semuanya dengan
cepat dan tepat? Jika semua bisa kita ingat, coba untuk menggali lebih dalam
lagi, seberapa dekat kita mengenal beliau. Dan, tak ada salahnya pula
pertanyaan itu kita ajukan kepada orang-orang di sekitar kita. Jangan-jangan,
dalam diam kita mulai lupa dengan sejarah nabi yang kita mengaku menjadi
umatnya. Menyedihkan bukan, bila belajar sejarahnya saja dianggap tak menarik
lagi?
Mari, kita benahi kembali, mulai dari diri
kita, keluarga kita. Kita kenali lebih dekat lagi seseorang yang kita yakini
sebagai utusan Allah, yang sangat kita harapkan syafaatnya kelak, dengan jalan
mempelajari sejarahnya. Tak ada alasan bahwa kita tak lagi sekolah, banyak
tempat untuk bertanya, banyak buku yang bisa dibaca. Semua kembali pada kemauan
kita, apakah kita ingin mengenali sosok yang kita yakini, ataukah cukup dengan
berucap kita yakin dan percaya, lalu berharap mendapat syafaatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar