oleh Aidh Al-Qarni
Bersiap-siaplah menghadapi detik-detik
kematan, yang pasti tiba. Setiap kita pasti mati. Setiap kita pasti akan
mengalami sekarat. Kita pasti akan menemui kematian itu. Semua orang – baik
raja maupun hamba sahaya, atasan maupun bawahan, kaya ataupun miskin – telah
merasakannya. Semua bangsa telah merasakan pendihnya kematian.
Amr Ibn Ash, yang dijuluki ‘Urthubun’ (orang
yang amat cerdik) karena begitu cerdiknya, tengah mengalami sekarat. Ia tidak
bisa menghindar dari kematian. Kematian melumpuhkan daya orang-orang yang amat
cerdik, menguras habis tenaga orang-orang kuat, meluluhlantakkan bangunan si
kaya.
Saat sakaratul maut menjelang sang tokoh itu,
anaknya, Abdullah, yang ahli zuhud dan ahli ibadah, berbisik kepadanya, “Ayah,
gambarkanlah kematian itu kepadaku. Tentu ayah orang yang paling jujur dalam
menggambarkannya”, ujar Abdullah.
“Anakku “, ucap Amr ibn Ash. “Demi Allah,
rasanya gunung-gunung seperti diimpitkan ke atas dadaku. Aku seakan bernapas
melalui lubang jarum”, jawab Amr ibn Ash.
Ibnu Rajab menyebutkan bahwa Umar ra, pernah
berkata kepada Ka’ab al-Ahbar, “Coba beri aku gambaran tentang kematian”,
ujarnya. “Amirul Mukminin, perumpaan kematian itu tidak lain seperti orang yang
dipukul dengan ranting kayu bidara atau kayu thalh (pohon akasia) yang berduri.
Kematian ranting tersebut ditarik, bersamaan dengan itu setiap pembuluh darah
dibadan pun ikut tertarik”, tambahnya.
Allah Ta’ala berfirman :
فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ ﴿٨٣﴾
وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ ﴿٨٤﴾
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لَّا تُبْصِرُونَ ﴿٨٥﴾
فَلَوْلَا إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ ﴿٨٦﴾
تَرْجِعُونَهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ ﴿٨٧﴾
“Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah)
ketika (nyawa) telah sampai dikerongkongan, dan kamu ketika itu melihat, dan
Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat, maka
mengapa jika kamu memang tidak dikuasasi (oleh Allah), kamu tidak mengembalikannya
(nyawa itu) jika kamu orang yang benar”. (QS : Al-Waqi’ah : 83-87)
Kemudian, Allah Ta'ala :
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿٢٦﴾
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ﴿٢٧﴾
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa,
tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal”. (QS :
Ar-Rahman : 26-27)
Hasan al-Basri menasihati anak-anak dan
murid-muridnya, “Kematian mengeruhkan kehidupan dunia, sehingga tidak
menyisakan secuilpun kegembiraan pada mereka yang punya hati”, cetusnya. “Para
pembesuk datang menjenguk orang yang sakit, tetapi mati itu dialami oleh orang
yang membesuk dan yang dibesuk”, tambahnya.
Kisah riwayat hidup Ar-Rabi’ bin Khaitsam,
ahli zuhud dan ahli ibadah, dikisahkan bahwa suatu kali ia jatuh sakit, lalu
orang-orang bertanya, “Tidakkah perlu kami panggil dokter?”, tanyanya. Khaitsam
menjawab, “Awalnya saya sudah berpikir untuk memanggil seorang dokter, tetapi
dokter dan pasiennya sama-sama akan mati”, ucapnya.
Dari Abu Bakar Ash-Siddiq ra, yang shahih
dituturkan bahwa ketika ia sedang sekarat, orang-orang berkumpul di dekatnya.
“Wahai Khalifah Rasulullah, tidakkah perlu kami penggilkan seroan tabib?”,
tanya mereka. “Sudah. Sudah ada tabib yang datang melihat kondisiku”, jawabnya.
“Lalu apa katanya”, tanya mereka. Katanya, “Aku berbuat sekehendak-Ku”, jawab
Khalifah.
Kemudian,di dalam kitab Washaayal-Ulama
Indal-Maut (Wasiat Para Ulama Menjelang Kematian), disebutkan sebuah riwayat
dari Abu Darda’ra, saat ia berjuang menghadapi sakaratul maut, “Adakah orang
yang beramal untuk persiapan menghadapi kematian yang amat berat ini? Adakah
oran gyang beramal untuk persiapan menghadapi sakitnya kematian? Adakah orang
yang beramal untuk persiapan di kala ia terbaring tidak berdaya di atas
pembaringan seperti ini?”
وَاتَّقُواْ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ ﴿٢٨١﴾
“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua
dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna
sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi
(dirugikan)”. (QS : Al-Baqarah : 281)
Sungguh kebanyakan, manusia terlena dan mabuk,
mereka tidak menyadari tentang akan datangnya kematian, yang pasti menghampiri
mereka. Di mana mereka tidak dapat lagi dari kematian yang akan merenggut
nyawanya. Tidak ada satupun manusia yang dapat lari dari kematian yang akan
tiba itu.
Fiman-Nya :
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً حَتَّىَ إِذَا جَاء أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ ﴿٦١﴾
ثُمَّ رُدُّواْ إِلَى اللّهِ مَوْلاَهُمُ الْحَقِّ أَلاَ لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ ﴿٦٢﴾
“Dan Dialah penguasa mutlak atas semua
hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga kematian
datang kepada salah seorang diantara kamu, melaikat-malaikat Kami mencabaut
nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya. Kemudian mereka (hamba-hamba
Allah) dikembalikan kepada Allah, penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah
bahwa segala hukum (pada hari itu) ada pada-Nya. Dan Dialah pembuat perhitungan
yang paling tepat”. (QS : Al-An’am : 61-62)
Pemusnah kenikmatan ad alah mati, yang
memisahkan kumpulan, merenggut anak-anak. Kematian datang dengan bencana dan
petaka, lalu meninggalkan mereka tergeletak dalam kegelapan. Begitulah
kematian. Manusia banyak yang melalaikannya. Mereka seakan tak pernah akan
menghadapi kematian. Mereka berpesta dengan kehidupannya. saat menjemut
maut/al-qalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar