oleh Anung Kumar
Apa yang ada di benak seorang ikhwan tatkala
pandangannya tertuju pada seorang wanita yang berbalutkan pakaian 'seadanya' ?
Dan bagaimana pula jika perhatiannya tertuju pada seorang akhwat yang
berbalutkan pakaian syar’inya ? Tentu saja ada perbedaan antara keduanya.
Bagi seorang ikhwan (apalagi yang masih
lajang), melihat wanita berpakaian serba ketat, tipis, dan transparan memang
sangat 'menggoda', namun tetap, dalam hatinya (kalau memang masih normal)
tersimpan rasa benci, risih dan jijik melihat pemandangan seperti itu.
Berbeda halnya tatkala menyaksikan seorang
wanita yang memakai busana kehormatan dan kesucian yang menutup seluruh
tubuhnya, tidak menampakkan lekuk tubuhnya, lebar dan longgar, ada nuansa
kekaguman dan penghargaan terhadapnya atau perasaan lainnya yang entah
bagaimana membahasakannya, singgah di hati dan kadang menguntum di dalamnya.
Namun, akankah kekaguman itu bertahan
(seandainya) setelah menikah dengannya ? Pembahasan itulah yang saya
perbincangkan beberapa waktu lalu dengan seorang ikhwan. Ia telah berkeluarga
dan telah dikaruniai tiga orang anak dari pernikahannya dengan seorang akhwat
sepengajian. "Kalau udah nikah sih biasa aja." Katanya, "Kalau
sebelum nikah ya memang gitu, tapi kalau udah nikah sih nggak."
"Makanya dalam rumah tangga hafalan Al-Quran (juga) nggak diperhatiin,
gimana hafalannya? Berapa banyaknya? Yang dibutuhin tuh, bukan cuma ‘teori’,
tapi prakteknya. Perhatian nggak sama dia (pasangan)? Perhatian nggak sama
anak?" Katanya lagi.
Saya terhenyak sejenak mendengar kata-katanya.
Kalau hafalan Al-Quran yang tentunya itu kelebihan dan kebaikan lahiriah bagi
orang yang memilikinya-saja bisa tak 'berguna' dalam pernikahan, lantas
bagaimana dengan kelebihan lahiriah lainnya? Bagaimana dengan kecantikan
seorang istri dan ketampanan seorang suami, akankah berguna dalam mahligai
pernikahan?
"Mahar sampe ratusan juta gitu? Memang
sih enak dapat istri cantik kayak gitu, tapi kalau udah ‘dirasain’ sih, ya sama
aja kayak perempuan lainnya (yang murah maharnya)." Demikian komentarnya
tatkala mengetahui berita dari surat kabar tentang mahalnya mahar wanita-wanita
Libanon, negeri 'gudang'nya wanita-wanita tercantik sejagat alam. "Padahal
kalau udah nikah (kecantikan) itu nggak terlalu diperhatiin. Yang diperhatiin
tuh, gimana akhlaknya sehari-hari di rumah, gimana dia ngelayani suami."
Tambahnya lagi.
Ucapannya mengingatkan saya pada nasehat
seorang dosen tafsir sekitar setahun yang lalu ketika membahas hukum pernikahan
dalam surat An-Nisa. Beliau berkata di kelas (dalam bahasa Arab, yang artinya
kurang lebih), "Seharusnya memilih pasangan jangan karena lahiriahnya
saja. (Bagi para akhwat) jangan memilih pasangan hidup semata-mata karena ia berjenggot
dan (bagi para ikhwan) jangan memilih pasangan karena pertimbangan kecantikan
belaka. Ingat sabda Nabi kita صلى الله عليه وسلم, “Wanita itu (biasanya) dinikahi karena empat perkara, ‘karena
hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya, maka pilihlah yang
memiliki agama, niscaya kamu beruntung'."
Beliau melanjutkan, "Agama dan akhlak,
itulah yang harus menjadi prioritas. Maka perhatikanlah bagaimana agama dan
akhlaknya sehari-hari. Pertimbangan fisik memang penting dan dibutuhkan ketika
memilih pasangan, tapi jangan jadikan itu yang terpenting. Utamakanlah yang
memiliki din serta akhlak yang baik, karena kecantikan itu relatif. Cukupkanlah
dengan memilih wanita yang sekedar bisa menyejukkan hati kalian ketika
memandangnya (jika ia memang wanita yang baik/salehah). Sebab perlu kalian
ketahui, tatkala seseorang menikah dengan seorang wanita, bila telah berlalu
beberapa tahun, ia akan menganggap istrinya itu ‘biasa-biasa’ saja, secantik
apapun dia, walaupun sangat cantik. Makanya, pilihlah pasangan yang memiliki
din serta berakhlak baik yang bisa membantu kalian untuk taat kepada Allah,
karena dialah yang kelak mendampingi kalian seumur hidup kalian."
Nasehatnya seakan masih hangat di kepala dan
terngiang-ngiang di telinga. Saya renungkan nasehat itu dan saya tambahkan
dengan perkataan ikhwan tadi, maka saya dapati kedua orang yang sudah mencecap
pahit-manisnya kehidupan rumah tangga ini ternyata memberikan pelajaran yang
cukup berharga.
Mereka berdua mengajarkan kepada siapapun yang
ingin mencari sosok pendamping dalam bahtera pernikahan, mengarungi dengan
selamat samudra kehidupan rumah tangga yang penuh dengan cobaan, bahwa:
Kecantikan dan ketampanan lahiriah seseorang
ternyata tak bisa merekatkan dua hati yang terikat dalam ikatan suci selama tak
disertai dengan budi pekerti.
Lebarnya jilbab dan lebatnya jenggot seseorang
ternyata tidak cukup dan tak mungkin cukup sebagai bekal untuk membangun rumah
tangga yang sakinah, mawaddah warahmah, selama tidak dihiasi dengan kemuliaan
adab serta keelokan akhlak.
Banyaknya hafalan Al-Quran seseorang,
kefasihannya tatkala membaca kalam Allah tersebut, ternyata tak 'berarti' bagi
keharmonisan suatu pernikahan, jika tak disertai dengan amal dari apa yang
dibaca dan dihafalkannya.
Kelihaian seseorang menggetarkan hati
pendengar di atas mimbar, menyentuh perasaan pembaca melalui tulisan: nasehat,
tausiyah, wejangan penuh hikmah, ternyata tak akan sanggup menggetarkan dan
menyentuh hati pasangannya, sampai ia mempraktekkan apa yang disampaikannya, di
dalam rumahnya, di hadapan pasangannya!
Seluruh kelebihan lahiriah itu akan pupus di
hati pasangan dan tak akan memberikan kontribusi berarti bagi kebahagiaan rumah
tangga, bila tidak disertai dengan amal (praktek) dan tanpa ditunjang dengan
akhlak yang mulia.
Lantas, akankah kita tetap menaruh ekspektasi
besar terhadap calon pasangan karena lahiriahnya semata?
Maka, saatnya tunduk tengadah, apakah ia telah
mengamalkan ilmu yang didapatkannya selama ini? Apakah ia telah menghiasi diri
dengan ibadah dalam kehidupan sehari-hari? Senantiasa berbaktikah ia kepada
orang tuanya? Selalu berakhlak baikkah ia tatkala bersama tetangga dan teman-temannya?
Kalau memang ia telah memenuhi seluruh 'tuntutan' itu, maka kejarlah ia,
kerahkan seluruh daya dan upayamu untuk 'menangkapnya', karena ia adalah
'malaikat' atau 'bidadari' yang selama ini kamu cari!
Wallohu’alam bissowab J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar