P#40: Biar ‘Dianggap’ Sama Atasan
Hore!
Hari
Baru, Teman-teman.
Anda, termasuk orang yang ‘dianggap’ oleh atasan atau tidak? Kita
perjelas sedikit konteksnya. Jika Anda merasa disepelekan oleh atasan. Atau
tidak dihargai. Atau tidak diperhatikan. Atau tersisihkan diantara anak buahnya
yang lain. Maka kemungkinan, Anda tidak dianggap oleh atasan Anda. Sebentar.
Agar tidak salah paham nih, izinkan saya untuk menegaskan bahwa kalimat saya
itu bukanlah sebuah hasutan. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa ada
indikasi-indikasi tertentu dalam kehidupan kerja kita yang dengan jelas sekali
menunjukkan apakah kita ‘dianggap’ oleh atasan kita atau tidak. Ciyus, masyalah
buat eloh? Bagi saya sih tidak masalah. Karena sekarang saya sudah bukan
karyawan lagi. Tapi bagi setiap orang yang masih berstatus sebagai karyawan,
soal penilaian atasan ini tentu sangat penting. Tahu kenapa? Tidak sesederhana
itu lho.
EGP!
Emang Gue Pikirin!
Itu adalah respon dari orang yang paling tangguh ketika merasa
jika dirinya tidak dianggap oleh atasannya. Dia melawan. Ciri khas orang yang
mandiri dan percaya diri memang begitu.
Nangis. Berkeluh kesah. Curhat. Mutung.
Itu adalah respon orang yang sensi banget. Perlakuan atasannya
yang kurang menyenangkan sangat mempengaruhi kestabilan emosinya. Kalau bisa
melawan, dia melawan. Tapi biasanya sih nggak bisa, sehingga akhirnya hanya
sanggup menumpahkan kekesalan hatinya lewat rumpian dikantin. Atau di kamar
mandi ketika sedang berdandan rame-rame di depan cermin toilet kantor setiap
pagi.
Respon manakah menurut pendapat Anda yang paling baik? Saya tidak
bisa mengetahui secara pasti jawaban Anda. Tapi, mari kita lihat beberapa
fenomena berikut ini:
Seorang sahabat. Percaya diri banget. Seorang pribadi yang
indipenden. Jika dia laki-laki, maka dia bisa disebut sebagai cowok macho. Dan
jika perempuan, mungkin juga cocok kalau disebut sebagai cewek gagah berani.
Tidak ada rasa takutnya. Dan salah satu ciri utamanya adalah; dia tidak terlalu
ambil pusing dengan pendapat orang lain tentang dirinya. Termasuk, bagaimana
atasannya memperlakukannya. Gak ngaruh sama sekali. Maka ketika atasannya tidak
‘nganggep’ pun dia nyantai aja. “Keciiil…” katanya.
Siapa takut? Dia sanggup
kok menghadapi siapapun. Maka keseharian kerjanya pun dijalani dengan keberanian
yang luar biasa untuk menunjukkan kepada atasannya bahwa dia, tidak bisa
mengendalikan perasaannya. Gue nggak takut! Begitulah prinsip hidupnya. Disisi
lain, atasannya makin merasa ditantang. Lalu, dengan kekuatan jabatan alias
position powernya, dia semakin memperlihatkan arogansi khas seorang pejabat
mabuk kepayang. Maka, hasil akhir yang mereka berdua dapatkan adalah; kekalahan
total. Kenapa? Karena mereka memainkan zero some up game, alias permainan yang
tidak menguntungkan siapapun. Loose-loose solution, jika Anda ingin menyebutnya
demikian.
Di sisi ekstrim lainnya. Ada sahabat kita yang lain. Setiap hari,
air matanya nyaris tertumpah hanya gara-gara perlakuan atasan yang tidak layak
diterimanya. Sekalipun dia sudah berusaha untuk kuat menerima perlakuan itu,
tapi tetap saja; matanya berkaca-kaca juga. Sekali dua kali, dia masih bisa
curhat pada temannya. Tapi lama kelamaan, tidak ada lagi teman yang punya waktu
luang sedemikian banyaknya untuk selalu mendengar keluh kesahnya. Walhasil, semuanya
sekarang dipendam sendirian. Merasa tidak dianggap oleh atasan. Dan merasa
ditinggalkan oleh teman-teman. Maka tidak heran jika bekerja, tidak lagi
memberikan nuansa yang menyenangkan bagi dirinya. Jika bukan karena kebutuhan,
dia sudah sejak lama memilih berhenti saja. Dia, membiarkan diri menjadi korban
dari ketidakberesan perlakuan seorang atasan.
Sekarang, Anda sudah bisa menilai; apakah pilihan Anda tadi sudah
tepat atau belum. Lebih baik sikap yang ditunjukkan oleh orang pertama, atau
orang kedua? Tetapi, ada jenis orang ketiga yang belum saya ceritakan. Yaitu,
orang yang menyadari atasannya menyepelekan dirinya. Tidak menganggap
keberadaan dirinya. Dan tidak peduli kepadanya. Lantas orang itu bertanya
kepada dirinya sendiri; “Apa yang menjadi penyebab atasan gue memperlakukan gue
seperti ini?”
Dari pertanyaan itu, dia bisa menemukan banyak jawaban. Namun,
semua jawaban itu bisa dikategorikan kedalam dua kelompok besar. Pertama,
jawaban yang berkaitan dengan atasannya sendiri. Misalnya, atasan yang di
rumahnya tidak bahagia, memang sulit untuk membuat suasana kerja yang
menyenangkan. Atasan yang hubungannya dengan pasangannya – istri atau suami
mereka – tidak harmonis, memang sangat mudah menciptakan konflik di kantor.
Atau, boleh jadi atasannya sedang setress sehingga dia tidak bisa berperilaku
layaknya seorang pemimpin. Itu hanya contoh-contohnya saja. Ada banyak latar
belakang – underlying causes – lainnya yang bisa menyebabkan seorang atasan
berperilaku tidak patut. Dan sahabat kita yang memahami hal ini sadar, bahwa;
itu semua, tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Sehingga kondisi emosi, jiwa
dan mentalnya bisa tetap terjaga. Seperti ikan laut yang dagingnya tetap tawar
meskipun selama hidupnya direndam oleh air garam. Dia, tetap fokus pada kinerja
terbaiknya.
Kedua, jawaban yang berkaitan dengan dirinya
sendiri. Misalnya, memang selama ini dia merupakan anggota team yang kinerjanya
paling lemah. Ya pantaslah atasannya nggak ngangep. Atau dia tidak bisa
memenuhi target-target yang telah menjadi komitmen bersama. Atau laporannya
telat terus. Atau, belum bisa menunjukkan ‘kualitas kerja’ dan kualitas pribadi
terbaiknya. Wajar dong jika atasannya lebih menganggap orang lain yang lebih
baik daripada dirinya. Sahabat kita yang menyadari hal itu menyikapinya dengan
introspeksi diri. Lalu dia menemukan satu demi satu hal yang perlu perbaikan.
Tahun demi tahun konsistensinya untuk terus memperbaiki diri itu pada akhirnya
membawa dirinya kepada sebuah pembuktian. Bahwa dia, mempunyai lebih banyak kebaikan
yang belum digali. Sehingga di akhir karirnya, dia berhasil menjadi pribadi
yang cemerlang.
Apakah Anda mengira cerita saya tentang ketiga jenis manusia itu
kisah rekaan belaka? Hmmh…, boleh saja jika Anda ingin mengiranya demikian.
Tetapi ketahuilah, bahwa kisah itu benar-benar terjadi. Seandainya Anda sendiri
mendapatkan atasan yang tidak ‘nganggep’ itu, maka jenis orang yang mana yang
akan Anda pilih? Orang pertamakah? Orang keduakah. Atau Anda memilih untuk
menjadi orang yang terus membuka hati dan pikiran. Sehingga berhasil menjadi
pribadi yang tetap positif. Dan terus bertumbuh dari hari ke hari. Silakan
pilih sendiri.
Namun demikian, izinkan saya membekali Anda dengan sebuah firman
dalam surah 13 (Ar-Ra’du) ayat 11: Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu
kaum sebelum mereka sendiri mengubahnya.” Jelas sekali jika Tuhan
menyatakan bahwa baik dan buruknya hidup kita, tidak ditentukan oleh orang
lain. Sekalipun orang itu adalah atasan kita sendiri. Kita sendirilah yang
menentukannya. So, never let anyone else take control your life. Karena kitalah
orang yang paling bertanggungjawab terhadap hidup kita sendiri. Jika bisa
begitu, Insya Allah; kita bakal dianggap sama atasan.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 18 Desember
2012
Leadership and Personnel Development Trainer
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
Catatan Kaki:
Bekerja itu bukan sekedar menerima keadaan kita apa adanya.
Melainkan sebuah kesempatan untuk membuktikan, bahwa keadaan kita bisa lebih
baik dari itu.
Ingin
mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung
dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan
bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang
lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim
sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar