Jumat, 17 Oktober 2014

Kekalahan yang lebih telak dari kalahnya Brasil di Piala Dunia

Seseorang berkata "Kenapa anak-anak dibawa ke masjid untuk sholat, kan nanti bisa mengganggu, ribut, berisik..."
Sebuah ungkapan yang sering kita dengar tentunya. Hal seperti itu sangat sering terjadi terutama jika memang anak yang dibawa itu senang bermain dan bercanda dengan teman-temannya.
Lantas bagaimana kita menyikapi kejadian tersebut?
Memang sudah menjadi kodrat alam bahwa anak kecil senang bermain, senang bercanda dalam setiap hal. Hal itu merupakan suatu kebutuhan bagi anak-anak sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan kedustaan. Ketika masa kecil dilalui dengan kesenangan dan kegembiraan maka bekal yang akan dia bawa sampai besar adalah menyikapi kehidupan dengan selalu tersenyum dan akan senantiasa bergembira. Berbeda dengan anak yang sejak kecil pendiam, biasanya dia akan tumbuh menjadi seorang pribadi yang penuh kejutan. Bisa menjadi seorang yang tertutup dan cenderung menghindar atau justru menjadi seorang pribadi yang sangat frontal karena luapan emosi yang tidak terkontrol hal itu biasanya disebabkan karena pada saat kecil emosinya sering terpendam dan ketika dewasa luapan-luapan emosi itu menjadi tidak terkontrol.
Kembali kepada persoalan membawa anak ke masjid utnuk sholat dan lainya. Rosululloh mengajarkan untuk memulai segala urusan dari masjid. Bahkan untuk urusan pemerintahan pun beliau memulai dari masjid. Disini kita mengajarkan kepada anak-anak untuk mencintai masjid, memulai aktifitas dari masjid (walaupun akan berisik diawalnya).
Seorang anak adalah generasi penerus kita sehingga jika tidak kita bekali dari sekarang, dari sejak kecil, lantas kapankah mereka akan mengerti bahwa untuk memulai segala urusan harus dari masjid?
Sesungguhnya kita haruslah bangga jika ketika melihat barisan shaf dalam sholat berdiri anak-anak kecil remaja dan pemuda. Karena pada merekalah kita akan meggantungkan nasib umat. Merekalah yang akan melajutkan perjuangan menegakan ajaran Islam.
Bagi para ayah, seberapa seringkah ayah mengajak anak-anaknya pergi sholat ke masjid?
Dalam seminggu, berapa kali mengajak anaknya untuk sholat berjamaah di masjid?
Apakah lebih sering mengajak ke masjid atau mengajak ke mal atau ke pasar?
Sesungguhnya jika kita lebih sering mengajak ke mal atau ke pasar, atau kita sudah tidak menemukan lagi anak-anak yang sholat berjamaah di masjid, maka sesungguhnya kita telah kalah dan bahkan lebih telak dan lebih memalukan daripada kalahnya Brazil atas Jerman di Piala dunia yang lalu.
Marilah kita ajak anak-anak kita untuk senantiasa sholat berjamaah di masjid,.
Bagi yang bekerja seperti saya (buruh pabrik), setidaknya sholat Magrib, Isya dan Shubuh  kita berjalan menuju masjid sambil menggandeng anak-anak kita serta bersenandung sholawat tanda cita kita pada Rosululloh dan syukur kita atas karunia yang telah diberikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar