"Tinggi
cita-citanya, mau jadi Imam Ahmad", kata umminya. Subhanallah, belum
pernah ana bertemu dengan anak kecil berumur sekitar 8 tahun yang mengatakan
hal serupa, selain di keluarga ini. Ya, keluarga yang menurut ana
"amazing". Beberapa kali ana dapat kesempatan berkunjung dan tinggal
lumayan lama di keluarga ini sehingga beberapa hal yang (menurut ana)
"amazing" ana temui. Suatu hari ana berkunjung (kembali). Bocah 8
tahun itu baru saja selesai hafalan surat At-Thuur sama abinya. Ya, lagi-lagi
Subhanallah. Coba tanya diri kita, "berapa umurmu sekarang? sudah hapal
berapa banyak dari Al-Qur'an?" Dan ketika ana belajar bersama dengan
saudara-saudaranya, adiknya yang paling kecil (6 tahun) membuka-buka buku dan
mulai belajar. Tibalah pada bagian yang ada lagunya. Dia berkata "jangan
lagu, maksiat". Ya ikhwah, pernahkah antum mendengar anak yang masih
sangat kecil mempunyai kesadaran terhadap maksiat seperti itu? Inilah yang
menurut ana pendidikan agama yang sukses di dalam keluarga..
Di lain pihak, ana berkesempatan bertanya kepada seorang anak. "Why do you study Qur'an?” dia menjawab "My mum forced me”. Anak ini berusia 12 tahun, dan anak tercerdas di kelasnya. Ya memang, dia tidaklah terlahir di dalam keluarga seorang ustadz, dan terlebih lagi memang dia adalah anak yang orang tuanya baru masuk Islam. Di satu pihak ana berpikir, "ya Alhamdulillah, orang tuanya dapat hidayah masuk Islam dan dia sekarang belajar Al-Qur'an. Walaupun terpaksa ya masih lumayan deh" (semoga Allah membimbingnya selalu, amiin). Tapi di pihak lain, kalau ana bandingkan dengan bocah-bocah "amazing" itu, ana jadi merasa kasihan. Kasihan juga dengan anak-anak mu'allaf lainnya di kelas itu. Ada yang jarang sekali datang ke kelas, dan ketika gurunya tanya kepada temannya.. "Where is she?" Temannya menjawab "She's shopping".
Qodarullah
memang mereka terlahir di negeri kafir ini. Budaya kafir sangat kuat
mempengaruhi bocah-bocah kecil ini. Bagaimana jadinya kah nanti kalau mereka
pun tetap merasa terpaksa dalam mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah. Bagaimana
mereka akan menyaring budaya kafir itu? Ana sangat berharap kalau suatu saat
nanti anak-anak ini (juga ana) ditaqdirkan oleh Allah untuk berhijrah ke negeri
muslim, Amiin.
Ya
ikhwah, jagalah selalu anak-anakmu. Bimbinglah sedari kecil dirinya di atas
islam. Jadilah orang tua yang sukses! Selamat untukmu wahai orang tua yang
mampu membimbing anak-anakmu di atas Islam!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar