Dalam
rentang waktu satu minggu ini saja, saya mendapatkan setidaknya tiga buah
undangan pernikahan. Mereka mau mengakhiri masa lajangnya, mengikuti sunnah Rosulnya
dan menggenapkan separo Dien-nya, MENIKAH.
Semoga
pernikahan kalian barokah, proses dan segala pernak-pernik pernikahannya juga
barokah, dan tentunya masyarakat sekitar juga mendapatkan barokah atas
pernikahan ini.
Menikah,
sebuah kata yang selalu menarik untuk saya dengar dan bicarakan. Bukan karena
saya sendiri telah menikah, bukan pula karena kita akan makan enak untuk
perbaikan gizi dengan mendatangi wedding party-nya, dan juga bukan karena saya
suka menikah, terlebih bukan karena saya ingin menikah lagi.
Wah kalau
yang ini sih bakalan ada Perang Dunia Jilid III dalam keluarga saya. Lebih
menarik lagi kalau yang menikah anak-anak muda, senang sekali rasanya
mendengarnya. Jadi ingin muda lagi deh.
Dalam
bukunya M. Fauzil Adzim-Kado Pernikahan Untuk Istriku-, saya pernah membaca
sebuah kalimat “Menikah adalah salah satu cara membuka pintu rezeki”. Mungkin
karena begitu banyaknya pintu rizki itu dan ternyata menikah adalah salah satu
dari pintu-pintu itu.
Bisa jadi
tidak ada bukti ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan untuk membuktikan hal
ini, karena keyakinan ini akan didapat hanya dengan paradigma Iman, keyakinan
yang utuh dan tidak ragu sedikitpun atas janji Allah sebagai Tuhan pemberi
rizki pada semua makhluk-Nya.
Saat pertama
kali dihadapkan dengan pertanyaan ‘menikah’ dalam hidup saya, perasaan ragu,
bimbang, takut dan tidak percaya diri berkecamuk dalam pikiran, mengingat saya
hanya seorang buruh berpenghasilan 700 ribuan perbulan.
Membayangkan
bagaimana saya bisa mencukupi kebutuhan keluarga, susah sekali saya menemukan
keyakinan, apalagi bukti–- bahwa seorang saya hanyalah menjadi perantara Allah
memberi rezeki kepada makhluk-Nya yang ditakdirkan menjadi istri atau anak
kelak.
Tapi
pernikahan memang tidak bisa dihitung secara matematis, karena campur tangan
Allah sungguh dominan disana. Jika kesiapan menikah diukur dari kemampuan
materi, sungguh nestapanya orang-orang papa.
Apalagi
setelah saya bekerja seperti saat ini, saya menemukan banyak teman kerja dari
Indonesia yang sudah mempunyai posisi bagus dan berpenghasilan di atas 50 juta
tapi masih belum mampu menemukan keyakinan dalam hatinya untuk mengakhiri masa
lajangnya.
Lalu apa
sebenarnya janji Allah untuk orang-orang yang akan melangsungkan pernikahan?
Sepanjang yang saya pahami inilah kira-kira janji Allah yag harus kita jemput.
“ Dan nikahkanlah orang – orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak ( menikah ) dari hamba–hamba sahayamu lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan, Jika mereka miskin Allah akan mengayakan mereka dengan karuniaNya. Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui “ ( QS. An Nur : 32 )
“ Dan nikahkanlah orang – orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak ( menikah ) dari hamba–hamba sahayamu lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan, Jika mereka miskin Allah akan mengayakan mereka dengan karuniaNya. Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui “ ( QS. An Nur : 32 )
Dari ayat
ini dengan sangat jelas Allah Subhanahu wa ta’aala berjanji akan mengayakan
orang yang miskin jika mereka menikah karena mengharapkan ridhoNya. Dimana
janji Allah merupakan sesuatu yang pasti dan tidak pernah Ia ingkari.
Oleh karena
itu tidak ada lagi yang membuat kita ragu untuk menikah. Melangkahlah dengan
pasti menuju keridhoan Allah Azza wa Jalla dengan menjalankan salah satu
syari’at-Nya yaitu menikah.
Ada pula
sabda Rasulullah, “Menikahlah maka kau akan menjadi kaya”. Mungkin secara
logika akan sangat sulit dibuktikan statemen-statemen tersebut. Sebuah
keniscayaan, akan banyak pertanyaan paling rewel dari makhluk bernama manusia,
“Bagaimana mungkin saya akan menjadi kaya sedangkan saya harus menanggung biaya
hidup istri dan anak?
Dalam
beberapa hal yang berkaitan dengan interaksi sosial juga tidak bisa lagi saya
sikapi dengan gaya para lajang yang simple, cuek serta penuh dengan
konsep-konsep idealis. Contoh saja, kalau ada keluarga mertua, tetangga atau
teman yang hajatan, menikah dan sebagainya.
Sunatullah
berbanding lurus dengan keyakinan manusia, dengan sepenuh keyakinan hati dan
iman, mari kita jemput janji Allah di telaga kenikmatan bernama MENIKAH.
Loh kenapa
telaga kenikmatan? Menikahlah segera, niscaya anda akan tahu jawabnya.
Wallahu'alam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar