Oleh Abi Sabila
Parmin, karyawan yang sudah tiga tahun bekerja
di Rumah Makan Sederhana itu hanya diam tertunduk. Sebuah kesalahan yang tak
sengaja ia lakukan telah memancing amarah sang majikan. Berkali-kali Parmin
meminta maaf, tapi tak juga meredakan amarah sang majikan. Omelan dan bentakan
sang majikan terus mengalir, bagaikan tiada habisnya.
Sebenarnya Parmin tak ingin merasa sakit hati,
karena apa yang diucapkan sang majikan memang hampir semua benar adanya. Bahwa
karena rasa kasihan, maka sang majikan menerimanya menjadi pelayan di rumah
makan yang sebenarnya tak perlu menambah karyawan. Bahwa ia sering meminjam
uang pada sang majikan untuk dikirim kepada keluarganya, namun tak juga segera
mengembalikan hingga sang majikan menganggapnya lunas begitu saja. Bahwa benar
sang majikan sering memberi uang tambahan dari gaji yang seharusnya ia terima.
Parmin menyadari itu, mengakui semua yang diucapkan sang majikan saat itu.
Tapi yang membuat Parmin sedih bahkan akhirnya
sakit hati, sang majikan membongkar semua itu dihadapan banyak karyawan
lainnya. Bahkan pengunjung yang tidak berkepentingan dan tidak tahu menahu awal
persoalannya, menjadi tahu siapa dan bagaimana dirinya.
Mengapa harus diungkit, jika hanya membuat
hati semakin sakit? Kalau memang ikhlas, mengapa semua kini digembar-gemborkan?
Tidak hanya tangan kiri yang akhirnya tahu, bahkan semua orang tahu jika tangan
kanannya telah berbuat kebaikan. Astaghfirulloh!
Parmin sedikit merasa lega setelah sang
majikan menghentikan omelannya. Sebisa mungkin ia menekan rasa sakit hatinya
pada sang majikan yang walau bagaimanapun telah banyak berjasa dalam
kehidupannya. Ia berusaha untuk ikhlas menerima. Ia telah melakukan kesalahan,
dan apa yang dikatakan sang majikan memang benar demikian.
Sementara sang majikan merasa puas telah
mengeluarkan semua kekesalannya. Ia sama sekali tak menyadari bahwa bukan saja
hati Parmin yang sakit, tapi ‘kebun’ yang ia miliki saat itu sudah habis
terbakar, nyaris tak bersisa.
***
Kisah diatas hanyalah fiktif belaka. Namun
demikian, dalam konteks yang hampir sama bisa kita temui di kehidupan nyata.
Ibarat sebuah kebun, amal ibadah yang kita
kerjakan adalah bibit-bibit yang kita semaikan di atasnya. Macam dan jenisnya,
tergantung apa yang kita lakukan, kita tanamkan. Ada jenis pohon yang akan
segera berbuah dalam jangka waktu yang relatif singkat. Ada juga yang akan
berbuah setelah menunggu dalam jangka waktu yang panjang. Dan ada juga yang
berbuah sepanjang waktu, sepanjang musim. Pohon yang seperti ini tumbuh dari
bibit bernama sedekah jariyah.
Jika tak diserang hama, bibit-bibit kebaikan
akan tumbuh menjadi tunas dan berkembang menjadi pohon yang subur, berbunga dan
akhirnya berbuah. Namun bila hama menyerang, atau bila kita tidak pandai dan
bersungguh-sungguh merawatnya, maka pohon-pohon tidak akan tumbuh subur, layu
sebelum berkembang, bahkan mati sebelum berbuah.
Begitupun amal kebaikan yang kita kerjakan.
Mereka ibarat benih-benih yang kita sebar di perkebunan. Niat yang baik dan
benar serta keikhlasan yang sempurna, untuk dan hanya mengharap ridho Allah
semata adalah bibit unggul untuk kita harapkan buahnya, baik di dunia maupun di
akhirat. Tapi, seumpama hama dan penyakit pada tanaman, setan akan selalu
berusaha untuk merusak perkebunan kita dengan segala tipu muslihatnya.
Banyak pohon kebajikan yang kita tanam
akhirnya tak menghasilkan buah, bahkan mati sebelum berbunga karena kita tak
pandai memeliharanya. Niat yang lurus dan keikhlasan pada awalnya menjadi riya
dan ujub pada akhirnya.
Seringkali kita tak mampu menjaga keikhlasan
dari amal yang telah dikerjakan. Kisah di atas salah satu contohnya. Kebaikan
sang majikan, pertolongan yang selalu ia berikan adalah bibit unggul baginya.
Kemajuan usahanya adalah salah satu buah yang dihasilkan pohon kebaikannya.
Namun sayang, kesalahan yang sejatinya adalah wajar sebagai manusia telah
memancing amarahnya. Ia tak mampu mengendalikan emosi, menahan diri dari
mengungkit semua yang pernah dia lakukan dengan ketulusan, ia berikan dengan
keikhlasan. Kata-katanya telah menyakiti orang lain yang sebenarnya sangat
menyadari kebaikan yang telah ia berikan. Kekesalannya, emosinya telah membakar
habis pohon-pohon yang mulai berbuah, bahkan hingga ke tunas-tunasnya. Hanguslah
kebun kebajikan, terbakar emosi, riya dan takaburnya. Innalilai wa inna ilaihi
rojiuun.
Disadari atau tidak, sebenarnya sering kitalah
yang menjadi hama dan ancaman bagi pohon-pohon di perkebunan kita sendiri.
Setan sedemikian kerasnya berusaha untuk mengalihkan perhatian kita, melalaikan
kita, melenakan kita dan menyelipkan rasa takabur ketika menyaksikan
pohon-pohon kita tumbuh dengan subur. Setan boleh saja gagal menghalangi niat dan keikhalasan kita berbuat
kebaikan, tapi setan tidak akan rela membiarkan amal ibadah kita tumbuh dan
berbuah. Sulitnya mempertahankan keikhlasan menjadi kesempatan emas bagi
setan untuk merusak amal ibadah manusia. Na’uzubillah!.
Perasaan kecewa manakala orang-orang tak
menyadari bahwa apa yang mereka nikmati adalah hasil dari sedekah kita, kerja
keras kita. Akan terasa bahagia dan bangga bila ada salah satu dari mereka yang
mengatakan bahwa itu adalah hasil pemberian kita. Ini adalah bara yang
disiapkan setan, dan akan berkobar menjadi api yang siap membakar habis bila tak
segera kita padamkan.
Kita masih sering tergoda untuk mencari cara
bagaimana agar orang tahu dan akhirnya mengakui bahwa kebaikan itu terjadi
karena kita, campur tangan dan sumbangan kita. Ketika ‘pengakuan tak segera
didapatkan, muncullah rasa kesal yang kemudian mendorong untuk
mengungkit-ungkit apayang sudah kita berikan. Tangan kiri yang tadinya dijaga
jangan sampai tahu malah ikut memplokamirkan apa yang tangan kanan lakukan.
Keikhlasan dan ketulusan yang semula menjadi pupuk, termakan sombong, riya dn
takabur. Orang yang tadinya bersyukur dengan kebaikan kita menjadi sakit hati
lantaran diungkit dan dipermalukan.
Jika kita masih saja demikian, tak ada buah
yang bisa dinantikan karena pohon terlanjur mati sebelum berbunga. Kalaupun
tersisa, hanyalah semak belukar yang tak bisa diharapkan apapun darinya , baik
batang, daun maupun buahnya. Dan jangan kaget atau menyalahkan siapa-siapa,
sebab bisa jadi pohon mati bukan karena hama dan penyakit yang menyerang, tapi
karena kita tak pandai menjaga dan merawatnya. Luruskan niat, pertahankan
keikhlasan, insya Allah ‘perkebunan’ kita akan menghasilkan apa yang kita
harapkan. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar