Senin, 13 Oktober 2014

Kita Ini Manusia Pra-Sejarah Kah?





P#77: Kita Ini Manusia Pra-Sejarah Kah?




Oleh DeKa




Hore!




Hari Baru, Teman-teman.




 




Ya iyyalah, kalau dilihat dari pakaian, kebudayaan, dan kehidupan kita ini beda sekali dengan manusia pra-sejarah. Tidur dalam gua. Perkakas batu. Berkomunikasi dengan asap. Bukan gaya hidup kita. Jelas dong, kita bukan manusia pra-sejarah. Tapi, apakah kita layak disebut manusia modern? Dengan kemewahan dan gadget secanggih itu, kayaknya pantes ya kalau mengklaim sebagai manusia modern. Sah-sah aja sih, kalau kita mengklaim seperti itu. Tapi, tahukah Anda; mengapa sih mereka disebut sebagai ‘manusia zaman pra-sejarah’?




 




Hari sabtu kemarin, saya menghadiri acara wisuda SMP puteri kami. Bukan wisuda seperti di perguruan tinggi memang. Tapi tetap saja menyenangkan. Ketika MC sampai kepada acara ‘sambutan-sambutan’, tiba-tiba istri saya berteriak. “Ya ampuun, Ayaaah… aku lupa kalau malam ini mesti ngasih sambutan!” Dan Anda tahulah, bahwa itu artinya saya mesti naik ke podium tanpa persiapan sama sekali. Mau gimana lagi kan? Marahin istri? Ya nggaklah. Untungnya tahun lalu, saya pernah masuk ke kelas mereka sebagai guru tamu. Ketika itu, mata pelajaran kami bertema sosiologi dengan sub tema tentang manusia pra-sejarah.




 




Justru ini merupakan kesempatan untuk mengingatkan kembali komitment para lulusan muda itu. Memang, waktu dikelas kami punya komitmen. Untuk tidak menjadi seperti manusia pra-sejarah. What’s wrong emangnya dengan manusia pra-sejarah? Nothing wrong sih. Tetapi, Anda tahu bahwa meskipun cukup banyak catatan atau temuan para arkeolog tentang manusia pra-sejarah. Namun kita tidak pernah mengenal nama satu orang pun dari mereka itu. Anda pasti mengetahui tentang zaman batu kan. Itu loh yang semacam megalitikum dan litikum-litikum lainnya itu. Sejago-jagonya Anda dalam pelajaran itu, Anda tidak akan pernah mengenal nama orang-orang zaman pra-sejarah kan?




 




Beda banget dengan manusia modern. Kita mengenal Soekarno. Hitler. Napoleon. Pokoknya, banyak banget deh. Meskipun semua orang itu sudah lama meninggal dunia, namun nama mereka tercatat dalam sejarah. Kalau saya bilang; itu loh yang membedakan manusia pra-sejarah dengan manusia modern. Bukan gadgetnya yang berubah dari serba batu menjadi serba elektronik. Bukan mode fashionnya yang dari daun atau kulit kayu dan kulit binatang yang berubah menjadi sutera serta kain tenunan. Bukan pula dari model tempat tinggal seadanya menjadi komplek keren bergaya minimalis hingga mansion.




 




Yang membedakan manusia modern dengan manusia pra-sejarah itu adalah; manusia pra-sejarah tidak pernah tercatat namanya dalam sejarah. Kalau soal canggih apa tidaknya perlengkapan hidup yang kita punya, itu sih tidak mutlak. Apa yang kita anggap canggih hari ini pun dalam tiga bulan kedepan menjadi ketinggalan zaman kan? Tengok saja itu hand phone Anda. Bukankah ganti terus setiap enam bulan karena malu jika disebut ketinggalan zaman?. Perbedaan pokok kita dengan manusia pra-sejarah adalah soal; apakah nama kita tercatat dalam sejarah atau tidak.




 




Jika nama kita tidak tercatat dalam sejarah, berarti selama hidup kita tidak membuat pencapaian yang bermakna dong. Jelas sekali kan? Jika setelah meninggal kelak, tidak ada satu pun hal yang bisa dikenang dari kehidupan kita sebelumnya, maka itu menunjukkan bahwa hidup kita ya cuman begitu-begitu saja. Beda dengan orang yang berhasil membuat pencapaian tinggi dalam hidupnya. Meskipun sudah meninggal, pasti ada sesuatu yang ditinggalkannya bagi masyarakat.




 




Malam itu, saya mengingatkan kembali anak-anak yang diwisuda. Bahwa dikelas sosiologi saya, mereka sudah berkomitmen untuk membuat sebuah hasil karya yang menjadikan nama mereka masing-masing layak dikenang. Anak-anak muda itu – lelaki dan perempuan – telah bertekad untuk mengisi hidupnya dengan hal-hal yang berguna. Sehingga kelak jika sudah dewasa, mereka bisa melakukan tindakan-tindakan agung. Bahkan kalau sudah meninggal pun, nama mereka tetap hidup.




 




Bagaimana dengan orang dewasa seperti kita? Coba tanyakan kepada diri Anda; kalau Anda meninggal, apa yang Anda tinggalkan? Harta? Lah, paling juga dibagi-bagi oleh pewarisnya. Jabatan? Nggak berarti lagi tuch. Kalau hasil karya Anda yang berguna bagi banyak orang, naaah… itu akan abadi. Mestinya sih setiap orang dewasa seperti kita ini sudah mempersiapkan atau membuat sesuatu yang memenuhi kriteria itu. Jika tidak, maka ketika kita meninggal kelak. Kita hanya akan meninggalkan tulang-belulang. Lima ribu tahun kemudian tulang kita akan ditemukan oleh generasi manusia yang jauh lebih modern lagi. Dan karena nama kita tidak tertera, maka mereka menyebut kita manusia pra-sejarah juga.




 




Saya ingin seperti anak-anak yang baru lulus SMP itu. Yang mempunyai tekad kuat untuk mengisi hidup dengan hal-hal penuh makna. Dengan tindakan dan perbuatan yang berdampak. Dengan perilaku perangai dan jalan hidup yang pantas untuk menjadikan nama kita tercatat dalam sejarah. Dan rupanya sahabatku, tekad agung itu tidak bisa tercapai jika kita hanya menjalani hidup alakadarnya saja. Atau sekedar mengikuti arus lingkungan saja. Cita-cita itu hanya bisa diwujudkan jika kita mau mengambil tindakan yang berarti. Meski orang lain tidak melakukannya. 




 




Halah, kalau orang kerja mah gimana caranya juga bisa begitu, kan? Aih, yang namanya pencapaian tinggi itu sahabatku, mencakup bidang apa saja. Termasuk dalam pekerjaan atau karir kita. Jika Anda seorang pekerja, maka Anda bisa menjadi seseorang yang layak dikenang melalui pekerjaan itu. Makanya, mulai sekarang; mari kita sama-sama membuat pekerjaan ini luar biasa. Melalui tindakan dan kesungguhan dalam menjalaninya; secara luar biasa. Kalau pun ada yang ngeselin, atau bikin kekih ya nggak usah dihiraukan dong. Masa depan kita terlampu berharga untuk bisa dihentikan oleh hal remeh temeh itu. Berani bertekad seperti anak-anak yang baru lulus SMP itu? Anda bersama saya, kalau begitu.




 




Salam hormat,




Mari Berbagi Semangat!




DEKA – Dadang Kadarusman – 25 Juni 2013




Author, Trainer, and Professional Public Speaker




DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327




PIN BB DeKa : 2A495F1D




 




Catatan Kaki:




Kalau hanya menyisakan tulang belulang, kita tidak ada bedanya dengan manusia zaman pra-sejarah. Kita mesti meninggalkan lebih dari itu, untuk bisa tercatat dalam sejarah.




 




Ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/




 




Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).




 




Salam hormat,




Mari Berbagi Semangat!




DEKA - Dadang Kadarusman




www.dadangkadarusman.com




Dare to invite Dadang to speak for your company? 



Call him @ 0812 19899 737 or Ms. Vivi @ 0812 1040 3327

Tidak ada komentar:

Posting Komentar