P#77: Kita Ini Manusia Pra-Sejarah
Kah?
Oleh DeKa
Hore!
Hari
Baru, Teman-teman.
Ya iyyalah, kalau dilihat dari pakaian, kebudayaan, dan kehidupan
kita ini beda sekali dengan manusia pra-sejarah. Tidur dalam gua. Perkakas
batu. Berkomunikasi dengan asap. Bukan gaya hidup kita. Jelas dong, kita bukan
manusia pra-sejarah. Tapi, apakah kita layak disebut manusia modern? Dengan
kemewahan dan gadget secanggih itu, kayaknya pantes ya kalau mengklaim sebagai
manusia modern. Sah-sah aja sih, kalau kita mengklaim seperti itu. Tapi,
tahukah Anda; mengapa sih mereka disebut sebagai ‘manusia zaman pra-sejarah’?
Hari sabtu kemarin, saya menghadiri acara wisuda SMP puteri kami.
Bukan wisuda seperti di perguruan tinggi memang. Tapi tetap saja menyenangkan.
Ketika MC sampai kepada acara ‘sambutan-sambutan’, tiba-tiba istri saya
berteriak. “Ya ampuun, Ayaaah… aku lupa kalau malam ini mesti ngasih sambutan!”
Dan Anda tahulah, bahwa itu artinya saya mesti naik ke podium tanpa persiapan
sama sekali. Mau gimana lagi kan? Marahin istri? Ya nggaklah. Untungnya tahun
lalu, saya pernah masuk ke kelas mereka sebagai guru tamu. Ketika itu, mata
pelajaran kami bertema sosiologi dengan sub tema tentang manusia pra-sejarah.
Justru ini merupakan kesempatan untuk mengingatkan kembali
komitment para lulusan muda itu. Memang, waktu dikelas kami punya komitmen.
Untuk tidak menjadi seperti manusia pra-sejarah. What’s wrong emangnya dengan
manusia pra-sejarah? Nothing wrong sih. Tetapi, Anda tahu bahwa meskipun cukup
banyak catatan atau temuan para arkeolog tentang manusia pra-sejarah. Namun
kita tidak pernah mengenal nama satu orang pun dari mereka itu. Anda pasti
mengetahui tentang zaman batu kan. Itu loh yang semacam megalitikum dan
litikum-litikum lainnya itu. Sejago-jagonya Anda dalam pelajaran itu, Anda
tidak akan pernah mengenal nama orang-orang zaman pra-sejarah kan?
Beda banget dengan manusia modern. Kita mengenal Soekarno. Hitler.
Napoleon. Pokoknya, banyak banget deh. Meskipun semua orang itu sudah lama
meninggal dunia, namun nama mereka tercatat dalam sejarah. Kalau saya bilang;
itu loh yang membedakan manusia pra-sejarah dengan manusia modern. Bukan
gadgetnya yang berubah dari serba batu menjadi serba elektronik. Bukan mode
fashionnya yang dari daun atau kulit kayu dan kulit binatang yang berubah
menjadi sutera serta kain tenunan. Bukan pula dari model tempat tinggal
seadanya menjadi komplek keren bergaya minimalis hingga mansion.
Yang membedakan manusia modern dengan manusia pra-sejarah itu
adalah; manusia pra-sejarah tidak pernah tercatat namanya dalam sejarah. Kalau
soal canggih apa tidaknya perlengkapan hidup yang kita punya, itu sih tidak
mutlak. Apa yang kita anggap canggih hari ini pun dalam tiga bulan kedepan
menjadi ketinggalan zaman kan? Tengok saja itu hand phone Anda. Bukankah ganti
terus setiap enam bulan karena malu jika disebut ketinggalan zaman?. Perbedaan
pokok kita dengan manusia pra-sejarah adalah soal; apakah nama kita tercatat
dalam sejarah atau tidak.
Jika nama kita tidak tercatat dalam sejarah, berarti selama hidup
kita tidak membuat pencapaian yang bermakna dong. Jelas sekali kan? Jika
setelah meninggal kelak, tidak ada satu pun hal yang bisa dikenang dari
kehidupan kita sebelumnya, maka itu menunjukkan bahwa hidup kita ya cuman
begitu-begitu saja. Beda dengan orang yang berhasil membuat pencapaian tinggi
dalam hidupnya. Meskipun sudah meninggal, pasti ada sesuatu yang
ditinggalkannya bagi masyarakat.
Malam itu, saya mengingatkan kembali anak-anak yang diwisuda.
Bahwa dikelas sosiologi saya, mereka sudah berkomitmen untuk membuat sebuah
hasil karya yang menjadikan nama mereka masing-masing layak dikenang. Anak-anak
muda itu – lelaki dan perempuan – telah bertekad untuk mengisi hidupnya dengan
hal-hal yang berguna. Sehingga kelak jika sudah dewasa, mereka bisa melakukan
tindakan-tindakan agung. Bahkan kalau sudah meninggal pun, nama mereka tetap
hidup.
Bagaimana dengan orang dewasa seperti kita? Coba tanyakan kepada
diri Anda; kalau Anda meninggal, apa yang Anda tinggalkan? Harta? Lah, paling
juga dibagi-bagi oleh pewarisnya. Jabatan? Nggak berarti lagi tuch. Kalau hasil
karya Anda yang berguna bagi banyak orang, naaah… itu akan abadi. Mestinya sih
setiap orang dewasa seperti kita ini sudah mempersiapkan atau membuat sesuatu
yang memenuhi kriteria itu. Jika tidak, maka ketika kita meninggal kelak. Kita
hanya akan meninggalkan tulang-belulang. Lima ribu tahun kemudian tulang kita
akan ditemukan oleh generasi manusia yang jauh lebih modern lagi. Dan karena
nama kita tidak tertera, maka mereka menyebut kita manusia pra-sejarah juga.
Saya ingin seperti anak-anak yang baru lulus SMP itu. Yang
mempunyai tekad kuat untuk mengisi hidup dengan hal-hal penuh makna. Dengan
tindakan dan perbuatan yang berdampak. Dengan perilaku perangai dan jalan hidup
yang pantas untuk menjadikan nama kita tercatat dalam sejarah. Dan rupanya
sahabatku, tekad agung itu tidak bisa tercapai jika kita hanya menjalani hidup
alakadarnya saja. Atau sekedar mengikuti arus lingkungan saja. Cita-cita itu
hanya bisa diwujudkan jika kita mau mengambil tindakan yang berarti. Meski
orang lain tidak melakukannya.
Halah, kalau orang kerja mah gimana caranya juga bisa begitu, kan?
Aih, yang namanya pencapaian tinggi itu sahabatku, mencakup bidang apa saja.
Termasuk dalam pekerjaan atau karir kita. Jika Anda seorang pekerja, maka Anda
bisa menjadi seseorang yang layak dikenang melalui pekerjaan itu. Makanya,
mulai sekarang; mari kita sama-sama membuat pekerjaan ini luar biasa. Melalui
tindakan dan kesungguhan dalam menjalaninya; secara luar biasa. Kalau pun ada
yang ngeselin, atau bikin kekih ya nggak usah dihiraukan dong. Masa depan kita
terlampu berharga untuk bisa dihentikan oleh hal remeh temeh itu. Berani
bertekad seperti anak-anak yang baru lulus SMP itu? Anda bersama saya, kalau
begitu.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 25 Juni
2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
Catatan Kaki:
Kalau hanya menyisakan tulang belulang, kita tidak ada bedanya
dengan manusia zaman pra-sejarah. Kita mesti meninggalkan lebih dari itu, untuk
bisa tercatat dalam sejarah.
Ingin
mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung
dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan
bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini
bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu
yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan;
belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).
Salam hormat,
Mari Berbagi
Semangat!
DEKA - Dadang
Kadarusman
www.dadangkadarusman.com
Dare
to invite Dadang to speak for your company?
Call him @ 0812 19899 737 or
Ms. Vivi @ 0812 1040 3327
Tidak ada komentar:
Posting Komentar