Oleh Panggih
Waluyo
Anak saya
sontak teriak ketika mendapat undangan kecil bergambar kartun dari temannya
mainnya. Sebagai orang tua, saya bisa memaklumi kegembiraannya karena
setahunya, dia mendapat sebuah undangan untuk makan dan bernyanyi-nyanyi ke
rumah temannya. Anak saya tahu hal seperti itu dari berbagai tayangan televisi,
dari temen-temen bermainnya, dari saudara-saudara yang masih melakukan
kebiasaan berulang tahun.
Seperti
biasanya, ketika mendapat undangan seperti itu, saya selalu berpesan kepada
istri agar tidak menghadiri acara tersebut. Saya berpesan agar memberikan
hadiah saja di luar acara tersebut. Dengan niat memberikan hadiah semata. Hal
tersebut saya lakukan guna menjaga hubungan antara tetangga, agar jangan sampai
terjadi persangkaan-persangkaan yang tidak-tidak karena ketidakhadiran anak
saya.
Di
awal-awal, sempat juga saya berselisih pendapat dengan istri saya, istri
berdalih dan khawatir jika tidak hadir di acara semacam itu kita akan diasingkan
oleh masyarakat dan anak kita akan menjadi kuper. Lalu saya jawab, “mi... akal
siapakah yang mau menerima, ketika jatah umur kita berkurang dengan
bertambahnya waktu, lalu kita malah “bergembira”, lalu “jika dikaitkan dengan
rasa bersyukur dengan bertambahnya usia, apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wassalam sebagai panutan kita mengajar cara bersyukur yang seperti itu...?”
Bukankah ini sebuah pembodohan untuk anak kita? Sebuah pemaksaan ajaran yang
jelas tidak bersumber dari agama yang kita yakini yakni Islam...”
Kemudian
saya tambahkan kepada istri saya lagi bahwa kebiasaan ulang tahun adalah
mengekor pada kebiasaan kaum di luar Islam yang biasa merayakan hari kelahiran
“tuhan” mereka. Dan ini merupakan satu point tambahan untuk alasan mengapa kita
harus menghindari acara tersebut. Apa dalilnya? Rasulullah Shallallahu
'alaihi wassalam telah mengingatkan kita, dari Abdullah bin Umar radhiallahu
anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk
darinya”. (HR. Abu Daud No. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam
Ash-Shahihah: 1/676)
Bisa
dikatakan jika kita mengikuti kebiasaan mereka (kaum di luar Islam) tersebut
maka kita adalah bagian dari kaum tersebut. Sebab dari panutan kita yang mulia
pun, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam tidak pernah memberikan
contoh “ritual” tersebut, bahkan jika dalihnya adalah sebuah ungkapan
kesyukuran, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam telah
mengajarkan dan mencontohkan bentuk kesyukuran yang real, sebagaimana telah
diriwayatkan dalam hadist berikut:
Mughirah bin
Syu'bah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah bangun untuk shalat sehingga
kedua telapak kaki atau kedua betis beliau bengkak. Lalu dikatakan kepada
beliau, 'Allah mengampuni dosa-dosamu terdahulu dan yang kemudian, mengapa
engkau masih shalat seperti itu?' Lalu, beliau menjawab, 'Apakah tidak
sepantasnya bagiku menjadi hamba yang bersyukur?'" (HR. Bukhari)
Begitulah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam mengajarkan kita cara bersyukur.
Bersyukur yang sebenar-benarnya adalah dengan menambah ketaatan pada Dzat yang
memberikan kenikmatan. Bukan dengan sekadar makan bersama atau bernyanyi-nyanyi
lalu setelah itu nuansa ketaatan dibuang jauh-jauh setelah mendapat kenikmatan
itu.
Jadi, kepada
Anda wahai saudaraku seaqidah yang menjadi orang tua, menjadi kakak, dan
menjadi contoh bagi anak dan adik-adik kita, masihkah ada dalil dan dalih untuk
“gemar” melakukan dan mencontohkan atau menganjurkan kebiasaan ini kepada
generasi penerus kita? Jika Anda berlebih harta, ajarkan anak dan adik-adik
kita bersedekah dan berinfaq kepada yang membutuhkan. Itu jauh lebih
mengajarkan kepada hal yang dicintai Alloh dan RasulNya. Jika Anda ingin
mengadakan acara makan bersama, maka undanglah anak yatim untuk bersama-sama
menikmati rezeki yang Anda terima dari Alloh. Maka itu juga hal yang diridhoi
oleh Alloh dan RasulNya.
Wahai
saudaraku seaqidah...
Yakinlah...bahwa
agama ini adalah aturan yang sempurna dari Yang Maha Sempurna. Tidak usahlah kita
merasa bangga dengan kebiasaan-kebiasaan yang “mereka” lakukan. Cukuplah Alloh
dan RasulNya sebagai penilai kita dan tolok ukur kebaikan buat kita...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar