Rabu, 24 September 2014

Membungkus suka dalam duka



Pesta ulang tahun, biar kecil-kecilan; khitan, betapapun sederhana; pernikahan, meskipun masal; sampai dengan selamatan kelahiran bayi, di banyak negeri, termasuk negeri tercinta kita ini,……identik dengan hadiah. Hadiah terkait dengan pengeluaran. Pengeluaran, selalutidak ubahnya, serupa denganuang. Yang terakhir saya sebut ini, paling diminati dan disukai orang.
Sayangnya, meski disukai, belum tentu selalu adadi saku dada. Guna mendapatkannya, tidak gampang. Bagi mereka yang punya hajat, biasanya sudah mempersiapkan diri, jauh sebelumnya. Akan tetapi bukan bagi mereka yang diundang untuk datang. Apalagi jika undangannya dadakan. Menghadiri undangan, sering malah menjadi dilema.
*****
Sudah menjadi tradisi di negeri ini, setiap kita diundang untuk menghadiri aneka selamatan yang saya sebut di atas, diharapkan, meski tidak semua suka, kita membawa ‘sesuatu’. Apakah itu dalam bentuk hadiah, bingkisan atau uang. Di rumah atau aula, tidak peduli tempatnya.
Ada petugas yang bersolek cantik, berseragam batik. Ada pula yang asal asalan, hanya beralaskan sandal. Apapun pakaian yang dikenakan, petugas ini, siap menerima tamu, yang umumnya memangdiundang. Kartu undanganpun, terkadang bukan main rumit pemesanannya. Ada yang artistic. Ada pula yang berbau politis.
Berbekal buku registrasi, layaknya petugas rumah sakit, siapapun yang hadir diharapkan tidak lepas dari ‘sorotan matanya’.Apakah menyodorkan langsung, atau memasukkan amplop dalam kotak atau keranjang yang tersedia, bukanlah persoalan.
Betapa cantik lakonan ini!
Namun siapa tahu, di balik semua ini, ternyata sejumlah tamu-tamu yang semula diundang, ternyata tidak sebahagia yang kita duga. Mereka memang tersenyum. Namun bisa saja ranum. Mereka barangkali datang sepasang.Tapi belum tentusatupemikiran. Mereka bisa pulanampak bahagia, padahal belum tentu tidak sengsara.

Pembaca……
Siapa sih orang yang tidak senang jika melihat hadiah dan uangdi tengahberbagai bentuk pestakita? Pada saat akan melaksanakan berbagai hajat kepentingan pesta, seperti yang saya ulas di atas, bisa jadi kita siap. Namun apakah kita sempat mengingat,bahwa dengan mengundang orang lain untuk datang ke tempat hajatan kita dengan mengantongi bingkisan, hadiah atau uang, mereka tidak dalam kondisi yang sama dengan kita?
Mestinya sadar, bahwa sementara kita punya uang, orang lain belum tentu. Sementara kita punya rencana hajat, siapa tahu barangkalitetangga kitatengah ditempamusibah. Sementara kita bisa menabung uang, orang lainyang tinggal di seberang sanabisa saja sedang mengambil sebagian tabungannyagunakepentingan yang tak terduga. Sementara kita mampu membeli hadiah, boleh jadikenalan terdekat kita justruberbaring di atas meja bedah.
Mempertahankan tradisi adakalanya baik.Akan tetapi tidak sedikit tradisi yang sebenarnya sama sekali tidak mendidik. Bahkan, justru merusak tatanan masyarakat,lantaranbudayayang kita pelihara nyatanya membuat banyak orang jadi lebih menderita.
Bagaimana tidak menderita apabila untuk mendatangi sebuah pesta pernikahansaja ternyata terpaksa harus mencari utangan? Bagaimana tidak sengsara,karena untuk mendatangi sebuah hajatan,nyatanyatetangga kitaharus berjuang keras dalam gelisah?
Makanya, saya begitutersentuh, ketika seorang sahabat lama, saat punya hajat, dia tulis dalam sebuah lembaran HVSwarna putih yang memang murah, kemudian disebarkan. Bunyinya:
‘Undangan…Mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara pada tanggal……..dan seterusnya. Catatan:Dimohon tidak membawa hadiah atau sumbangan. Kami hanya berharap do’a.’
Begitulah! Singkat dansangatsederhana. Namun sarat makna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar