Seekor anak rusa tampak berlari kecil di
tepian sungai. Ia melompat dari bebatuan satu ke bebatuan lain yang berserakan
di sepanjang sungai. Rasa dahaganya yang begitu tak tertahankan tidak melunturkan
niatnya untuk mencari mata air yang jernih. Karena di situlah, ia dan ibunya
biasa minum.
Sayangnya, karena longsoran tanah tepian
sungai, mata air tampak tidak lagi jernih. Warnanya agak kecoklatan. “Ih, kok
tidak jernih,” ujar anak rusa sambil mencari aliran mata air ke arah aliran
sungai.
Ia terus menelusuri aliran sungai yang berada
lebih bawah dari lokasi mata air. Sayangnya, kian ke bawah, semua anak mata air
yang ia temui berwarna sama: coklat keruh. Dan kian kebawah, warnanya lebih
keruh lagi.
Kecewa dengan apa yang ia temukan, sang anak
rusa pun berlari meninggalkan sungai menuju semak-semak di mana ibunya berada.
”Kamu sudah minum, Nak?” tanya sang ibu rusa
ketika mendapati anaknya sudah berada di dekatnya.
”Belum, Bu,” ucap sang anak rusa tampak kesal.
”Kenapa? Kan kamu sudah tahu di mana mata air
yang jernih itu berada,” sergah sang ibu rusa kemudian.
”Airnya keruh, Bu. Dan semua anak mata air
yang berada di bawahnya pun sama, bahkan lebih keruh lagi,” ungkap sang anak
rusa tidak mampu lagi menahan kekecewaannya.
Induk rusa pun menghampiri anaknya lebih dekat
lagi. ”Anakku, kamu dapat pelajaran baru dari keruhnya mata air,” ucap sang
induk rusa tiba-tiba.
”Maksud ibu?” tanya sang anak rusa begitu
penasaran.
”Anakku, kalau mata air yang berada di bagian
atas sungai keruh, semua aliran anak mata air di bawahnya akan lebih keruh
lagi. Begitulah alam mengajarkan kita,” jelas sang ibu rusa diiringi anggukan
anaknya.
**
Ada dahaga ruhani ketika kehidupan di negeri
ini kian jauh dari kepuasan jiwa. Orang menjadi begitu jatuh cinta dengan dunia
materi, dan tidak lagi perduli dengan orang-orang di sekitarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar