Oleh Dinar
Zul Akbar
Suatu malam
yang gelap dikarenakan mendungnya awan. Di sebuah rumah yang terlihat begitu
sederhana sekaligus sedikit manawan. Terdapatlah satu buah ruangan. Sebuah
ruang tempat menumpahkan pemikiran.
Sang sohibul
ruang bernama Ranid ia adalah seorang bloggerwan. Malam itu ia kembali untuk
menelurkan sebuah tulisan. Yang ia harap dapat bermanfaat bagi para saudara
serta kawan.
Tengah asik Ranid mengutak atik keyboard komputer sederhananya. Sebuah komputer yang telah lapuk dimakan usia. Tak terasa 5 tahun sudah ia komputer tersebut menemani kehidupannya.
Tengah asik Ranid mengutak atik keyboard komputer sederhananya. Sebuah komputer yang telah lapuk dimakan usia. Tak terasa 5 tahun sudah ia komputer tersebut menemani kehidupannya.
Kini
komputernya sudah sering sakit-sakitan. Sudah mulai lambat dalam berpikir dalam
hal menjalankan kewajiban. Akan tetapi ala kuli hal, semua itu tidaklah menjadi
halangan untuk Ranid dalam rangka meramaikan jagad per-blog-an.
Tak terasa
waktu sudah menunjukkan tengah malam. Tiba-tiba ada sesuatu yang hinggap di
lehernya Ranid secara diam-diam. Ranid menggerakkan tangannya untuk mengetahui
makhluk apakah gerangan. Setelah dilihat dan diamati ternyata ia adalah sesosok
semut besar yang berwarna hitam.
Dengan kedua
jarinya Ranid menjepit badan sang terdakwa. ”Auw” teriak Ranid ketika ternyata
sang semut telah menggigit jari tengahnya. Sang Semut pun lepas, sementara di
sisi lain Ranid masih merasakan kesakitan yang teramat luar biasa.
Ranid pun
kalap, sang semut terdakwa diputuskan bersalah karena tindak kejahatannya.
Hukuman mati pun telah diputuskan kepada dirinya. ”Dipites” adalah pilihan
utama dalam proses eksekusinya. Terlihat dari kedua mata Ranid bahwa sang
terdakwa berusaha kabur dari kejaran dirinya. Hup, dengan sergap kedua jari
Ranid kembali menangkap semut kecil yang kini tak berdaya. Dush, kedua jari
Ranid pun menjadi sarana pencabutan nyawanya. Innalillah, akhirnya Semut hitam
itu pun mendadak sudah tak bernyawa.
Melihat
jasad sang semut yang terkulai lemas dan agak sedikit hancur. Ranid pun
mendadak menjadi menyesal atas tindakannya yang sudah terlanjur. Ranid pun
terngiang-ngiang dalam pikirannya atas berbagai dosanya dimasa lampau.
Dosa-dosa yang tanpa ampun telah membunuh ratusan nyamuk satu-persatu. Hanya
karna sang nyamuk dianggap telah mengganggu berbagai kegiatannya yang telah
lalu.
Bahkan karna
saking kesalnya terhadap nyamuk. Ia dengan begitu mudahnya membunuh
nyamuk-nyamuk yang sekedar lewat disekitar bulu kuduk Padahal mungkin saat itu
nyamuk-nyamuk tersebut hanya sekedar mampir untuk duduk-duduk. Seperti tentara
zionis Israel yang tengah mabuk. Ia menyemprotkan senjata kimia (obat nyamuk
cair) ke kawanan nyamuk. Amat mirip terhadap apa yang dilakukan oleh tentara
zionis Israel di Palestina kepada seluruh penduduk
Ranid pun
segera beristighfar memohon ampun kepada Allah Tuhannya. Ia menyadari bahwa
semua makhluk Allah berhak untuk hidup di atas bumiNya. Ia pun merenungi,
seandainya ia adalah semutnya sedangkan Allah menjadi dirinya. Tentu tak
terbayangkan olehnya akan nasibnya. "..tidak ada seorangpun yang setara
dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas [112] : 4)
Ranid begitu
sadar terhadap besarnya dosa yang telah ia lakukan. Bahwa begitu dalamnya atas
maksiat yang ia pernah kerjakan. Atas begitu tingginya kedurhakaan yang telah
ia praktekan. Dan begitu beratnya kekhilafan yang telah ia amalkan. Tapi, Allah
sang maha Rohman dan Rohim sampai saat ini masih saja belum ”memites” dirinya
atas segala kesalahan dan apa-apa yang pernah ia kerjakan.
Ranid sadar
bahwa ia sebagai makhluknya sangat sering dan berulang kali telah ”menggigit”
bahkan mungkin hendak ”memakan” Allah Ta’ala. Akan tetapi Allah SWT masih saja
sayang terhadap dirinya. Sampai saat ini bahkan Allah sangat-sangat menjaganya.
Baik dalam hal kebutuhan hidup ataupun dalam hal menjaga aibnya.
Tak sadar
mata Ranid pun berkaca-kaca. Ia teringat akan dosa-dosanya sementara Allah
dengan kasihsayangNya masih saja terus-menerus dan tak akan pernah putus
dilimpahkan kepada dirinya.
Ranid
merenungi kembali kata-kata seorang teman yang pernah berkata kepadanya.
”Limpahan rahmatNya mengalahkan matahari yang terus menyinari seluruh penduduk
bumi. Dari awal pagi sampai di waktu sore hari. Walaupun terkadang ia dicaci,
oleh sebagian anak negeri. Kaih sayangNya melebihi kasih sayang seorang Ibu
terhadap darah dagingnya sendiri. Walau terlalu amat sering ia didurhakai.”
”Sungguh
terlalu besar kasih sayang Allah terhadap makhlukNya di dalam segala realitas.
Dan hal tersebut tidak akan pernah dan tidak akan mungkin cukup untuk
dituliskan diatas sebuah kertas. Untuk dilukiskan ke sebuah kanvas. Untuk
dibayangkan seluas khayal yang sangat terbatas.”
”Ya Allah
bagaimana aku dapat bersyukur kepadaMu, sedangkan rasa syukur itu sendiri
merupakan salah satu nikmat dari sekian banyak nikmatMu ” batin Ranid dalam
dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar